Dalam sebuah karikatur, tampak seseorang sedang duduk di tepi sebuah sungai dengan aliran air yang deras. Tiba-tiba ia mendengar suara, “Help, help, help!” Ia tidak tahu arti kata-kata tersebut, karena tidak pernah belajar bahasa Inggris. Syukurlah ia membawa kamus, sehingga segera mencari arti kata tersebut. Begitu mengetahui artinya, ia segera terjun untuk menolong. Namun terlambat, orang itu telah meninggal.
Apa yang akan kita lakukan saat melihat seseorang memerlukan pertolongan kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuknya? Pastinya kita tidak ingin seseorang terlambat menerima pertolongan kita, bukan? Paulus mengajar kita untuk siap sedia memberitakan firman Tuhan kepada yang membutuhkan. Mungkin masih banyak orang-orang di sekitar kita yang perlu mendengar berita Injil—tetangga, sahabat, saudara sepupu, kakak, adik, atau bahkan orangtua kita sendiri. Kita mungkin merasa kurang memahami isi Alkitab, sehingga takut salah memberitakan firman Tuhan kepada mereka. Karena itu, mulai sekarang mari kita berkomitmen untuk memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan melalui saat teduh, doa, pendalaman Alkitab, dan sebagainya, agar kita dapat siap sedia memberitakan firman saat melihat orang yang membutuhkan.
Apa yang membuat kita menunda memberitakan Injil kepada orang-orang terdekat kita? Kita tidak ingin terlambat menolong orang yang kita kasihi, bukan? Sebab itu, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (ayat 2).
KITA AKAN TERLAMBAT MENOLONG ORANG YANG KITA KASIHI, JIKA KITA SELALU MENUNDA MEMBERITAKAN INJIL
penulis : petrus kwik
sumber: renunganharian.net
Senin, 16 November 2009
Kapok
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 14:19-28
Ayat mas hari ini: Filipi 3:13
Bacaan Alkitab Setahun: Galatia 1-3
Anda pernah kapok melakukan sesuatu? Kapok bisa baik, bisa juga buruk. Kapok yang baik berkenaan dengan perilaku buruk. Misalnya, kapok merokok karena pernah opname di rumah sakit terkena radang tenggorokan akut. Atau, kapok kebut-kebutan naik sepeda motor, karena pernah kecelakaan. Sedangkan kapok yang buruk berkenaan dengan perilaku baik. Misalnya, kapok melayani di gereja karena pernah dikecewakan; kapok membantu orang lain karena pernah disalahartikan; atau kapok menyatakan cinta karena pernah ditolak mentah-mentah.Kapok yang buruk inilah yang harus kita hindari. Sebab untuk melakukan hal-hal baik tidak boleh ada kata kapok. Suatu kali Paulus tengah melakukan perjalanan pekabaran Injil ke kota Listra. Diluar dugaan, sekelompok orang Yahudi mendatangi dan menganiayanya. Begitu parah sampai-sampai orang banyak menyangkanya telah mati (ayat 19). Tidak disebutkan berapa banyak luka-luka yang dideritanya, tetapi kita bisa membayangkan betapa parah dan menderitanya Paulus.Kapokkah Paulus? Ternyata tidak. Keesokan harinya ia bangkit dan melanjutkan perjalanan (ayat 20). Apa rahasia ketegaran dan keteguhan Paulus? Dalam Filipi 3:13 ia menulis, ”Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Ya, Paulus tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam luka dan kepahitannya di masa lalu. Sebaliknya ia mengarahkan diri kepada ”apa yang dihadapannya”, yaitu visi hidupnya untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang. Dan ia lalu fokus kepada panggilannya itu. Karenanya ia tidak pernah kapok. Tetap tegar dan teguh.
DUA SIKAP YANG BISA MEMBUAT ORANG TIDAK MAJU: TIDAK BERBUAT APA-APA DAN KAPOK BERBUAT SESUATU
Penulis : Ayub Yahya
sumber : renunganharian.net


